SEPEREMPAT ABAD (MENIKAH ITU PENTING, TAPI...) - SOKASIK#4

Hello, Sokasik balik lagi buat kamu yang sebenarnya nungguin tapi malu buat ngomong wkwk bercanda yaa Bund…

Maaf yaaa, beberapa hari ini sokasik emang lagi soksibuk. Sudah punya draft tapi balik lagi selalu gagal total. Oh yaa, alhamdulilah Us udah masuk usia seperempat abad nih. Mungkin ini juga yang akan dibahas kali ini. Tentang perasaan memasuki dunia seperempat abad. Jujur ini adalah usia yang sering digunakan beberapa orang sebagai titik pencapaian tentang pernikahan. Khawatir, jelas sangat mengkhawatirkan. Mengkhawatirkan hal yang sebenarnya tidak perlu untuk dikhawatirkan.

Mungkin Us bakalan ngasih gambaran tentang apa yang sangat dikhawatirkan. Gambaranya bisa dilihat dari kalimat yang dicetak tebal ini.

Seperabad persoalan kepastian dan kesiapan.


Apa yang bakalan kamu pikirkan setelah memasuki umur ini. Pasti yang muncul adalah sebuah kepastian. Mari kita lihat dari dua sudut pandang yang berbeda.

Dilihat dari sudut pandang perempuan, mungkin lebih membutuhkan satu kata ini. Kepastian. Kepastian itu bak obat penenang bagi perempuan dari sebuah rasa khawatir. Sudah pasti kepastian perihal pernikahan. Di balik kata kepastian perempuan merasakan sedikit ketakutan tentang banyak hal. Ketakutan tentang memilih lelaki yang salah. Ketakutan akan menjalani hidup yang tidak se-menyengkan ketika bersama orangtua. Ketakutan tentang peluang datangnya orang ketiga. Ketakutan tidak bisa melakukan banyak hal seperti ketika masih bersama orangtua. Begitu banyak ketakutan. Meskipun begitu tetap yang diinginkan perempuan adalah sebuah kepastian yang berawal dari kepercayaan. Beberapa hari lalu ketika menonton vlog PowerRansger, ada hal yang selalu teringat. Perkataan salah satu pegawai Rans Entertaiment kurang lebih begini bunyinya.

“ Saran sebagai seseorang yang masih belum menemukan pasangan pada umur yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Hanya kepastian dan keseriusan yang harus diperhatikan. Terlebih kamu perempuan, yang sudah berumur dan berkerja. Carilah yang mau serius. Insyaallah dia yang terbaik untukmu. Jangan pernah menunggu sukses dan mapan. Sukses dan mapan bisa dicari bersama setelahnya. Tapi kalau hanya tidak ada niat serius segera tinggalkan. Tidak ada gunanya. Membuang waktu. “

Salah satu percakapan  yang membuat lebih meyakinkan juga perkataan salah satu artis. Kurang lebih begini bunyinya.

“ Kalau ingin menemukan seseorang yang sesuai dengan apa yang kita harapkan, sampai kapanpun tidak akan pernah ketemu. Kamu tidak bisa meminta orang lain menjadi seperti apa yang kamu inginkan. Begitupun sebaliknya. Itu juga tidak akan pernah bisa, yang ada hanya kita bisa menerima apapun kurang dan lebihnya. Jawaban cuma ada dua, iya dan tidak. ”

Dari kutipan ini bisa menjadi salah satu pertimbangan untuk perempuan  sedikit melangkah maju dari berbagai kekhawatiran dan ketakutan. Tanpa memikirkan perihal  mapan dalam hal pekerjaan. Sedangkan kalau melihat dari sudut pandang laki-laki.

Dilihat dari sudut pandang laki-laki, menurut beberapa survei yang sudah dilakukan. Lah, kenapa harus melakukan suvei? sebab aku tidak ingin menulis sudut pandang laki-laki dengan perasaan perempuan. Ini beberapa screenshoot jawaban teman-teman laki-laki. Setelah memberikan beberapa pertanyaan, jawabnya seperti ini.


Menurut salah satu orang yang bekerja di rumah sakit mempunyai pendapat bahwa umur se-perempat abad masih proses pencarian pendamping yang tepat dan fokus untuk memperbaiki karir terlebih dahulu. Meskipun sudah bekerja. Sebab perkara menikah itu bukan hal yang main-main sekali dalam seumur hidup. Begitupun untuk memberikan kepastian kepada seseorang masih harus mempersiapkan banyak hal.


Sekaligus menurut narasumber lain, alasan kematangan karir juga karena laki-laki adalah tulang punggung dari seorang wanita yang merupakan tulang rusuknya. Wihhh, mantap bangetlah kalimatnya! Semua itu juga tergantung standar masing-masing orang berdasarkan kesepakatan bersama kapan waktu yang tepat. Ini perihal kesiapan.


Sebagian juga berpikir kesiapan mental juga menjadi salah satu faktor. Pekerjaan tetap menjadi salah satu alasan. Sekaligus untuk hal baik kenapa harus ditunda kalau memang sudah jalan terbaik. Apalagi sudah ditakdirkan bersama. Tetapi mental juga menjadi patokan utama, kesiapan akan apa yang akan dihadapi setelah menikah. Siap untuk mengahadapi berbagai masalah bersama-sama. Sekaligus mengatasinya dengan baik.


Tetapi ada juga laki-laki umur seperempat abad sudah mempersiapan untuk menikah. Ada beberapa orang yang yang berpikir bahwa "target hidup" itu sangatlah penting. Selain itu, jenjang pendidikan juga memengaruhi pikiran perihal menikah. Tetapi mempersiapkan materi juga tak kalah penting, karena memang laki-laki adalah kepala rumah tangga yang mempunyai tangggung jawab cukup besar. Ketika semua dipersiapkan dengan matang maka kesiapan pasti akan muncul dengan sendirinya.

Nah, setelah Us memberikan pertanyaan kepada beberapa teman laki-laki. Memang pemikiran setiap orang beragam, namun kita dapat sedikit menyimpulkan. Pada umur seperempat abad banyak yang masih harus dipikirkan apalagi perihal pekerjaan. Umur seperempat abad bukan sebuah patokan untuk menikah. Banyak hal yang harus dipikirkan untuk memberikan sebuah kepastian kepada perempuan. Banyak juga yang harus dipersiapkan. Berbeda dengan pihak perempuan banyak yang merasa umur seperempat abad adalah waktu yang cukup.

Hal ini juga bisa menjadi referensi bagi perempuan. Kalau mempunyai pasangan belum juga memberikan kepastian di umur seperempat abad, karena memang laki-laki ingin memberikan yang terbaik. Masih harus mempersiapkan banyak hal, karena menikah bukan perihal main-main. Sekali seumur hidup. Begitu yupss, udah banyak banget nih nulisnya. Jadi, menurut Us begini:

“ Bagi perempuan yang mengkhawatirkan perihal kepastian menikah di umur seperempat abad. Jangan sampai karena keegoisan diri sendiri hanya melihat dari sudut pandang satu pihak entah perempuan atau laki-laki membuat kalian memikirkan dan mengkhawatirkan hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Setiap orang pasti ingin memberikan yang terbaik. Begitupun soal pernikahan. ”

~Us

0 Comments

Post a Comment