Cerpen: Pilu Merayu Sayu


Semesta melukis luka di balik senja yang kian menyala. Merona seperti api yang sedang mengobari ujung bumi. Sinarnya merasuk pelan di rongga kulit, mencipta besit.

Kopi menemani sore dengan aroma yang khas. Bersama sepoi yang gugurkan helai ringin secara halus mengakas. Pas, melengkapi paras Aska yang selalu macak tak ada apa-apa.

Tak terasa, langit kian menggelap dan angin kian mencepat. Hebusan angin malam itu mulai menggelitik tipis di tubuh Aska yang sedang asyik mengutik kata. 

Menebar haru di atas buku. Pena Aska terus melaju, merangkum asa yang kian membayu. Ingatan suara merdu telah berubah menjadi bisu. Menggondel semangat baru untuk tetap tidur berselimut rindu. Benalu.

Sesekali ia sruput tipis-tipis kopi itu dengan pejaman sayu. Hmm ... Begitu nikmat, sang banyu pekat. 

Kebiasaan menulis segala hal selalu ia goreskan di atas meja kayu belakang rumah. Beberapa tulisan sudah Aska torehkan di tempat itu. Baik sajak maupun prosa. Berasal dari fakta yang dikemas secara sastra. Hanya ditempat itu, imajinya dapat mengalir tanpa sendatan. Tak heran, walau tampak tua meja itu masih saja menjadi tempat semayam utama.

Menepis godaan dunia, Aska masih saja fokus dikekebiasaan lama. Di atas meja tua. Menyendiri, mengintrover diri secara paksa demi tulisan yang tak menjamin apa-apa. Ia hanya merasa nyaman, merasa ditakdirkan untuk bersahabat dengan tulisan.

Sore itu, Aska menangis di atas kertas. Coretannya tak seperti biasanya. Beberapa kali ia tersandung kata. Serasa aneh, merasa seperti bukan menjadi dirinya.

Masih terdengar tegas di awang-gemawang. Langkah kaki pertinggal dari seorang yang selalu digadang. Dulu teman berbincang, kini telah menghilang. Cintanya pun berkubang, tercincang-cincang.

Kesadaran akan keadaan, memaksanya melepas semua beban. Namun lagi-lagi, bayangan itu merayu-rayu dan terus menderu tak mau lalu.

Muak dengan diri sendiri. Memaksa kaki untuk pergi tinggalkan meja dan kopi. Meninggalkan tulisan rumpang yang masih mengambang tertahan beban.

Kepul cangkir kopi itupun semakin tipis, tersingkir oleh hawa petang di bawah cahaya lintang. Tipis tak berarti tak ada, karena masih sempat mengintip sipit tinggalan Aska di atas meja.

"Senyummu kelabu
Merambati lorong waktu
Merasuk ke relung kalbu

Indahmu melayu
Hanyut di sungai rindu
Tenggelam di palung candu

Surgaku melaju
Tinggalkanku dalam cemburu
Merayu, dan perlahan mengabu

... "

0 Comments

Posting Komentar