Cerpen: Salah Siapa? (Versi Riski)


Sejuknya udara pagi mengalir lembut di permukaan kulit. Suasana tersebut sangat cocok untuk beraktivitas, seperti halnya berolahraga. Seperti Riski, seorang lelaki separuh baya yang telah mengikat janji dengan kekasihnya untuk jogging bersama.

Sangat pagi-pagi, Riski langsung merapat ke tempat CFD. Tempat tersebut sangatlah dekat dengan rumah Riski. Mungkin sekitar 15 menitan jika di tempuh dengan jalan kaki. Mengingat motor kesayangannya sedang menginap di bengkel tetangga, maka tidak ada proses saling jemput-menjemput di pagi itu.

Cukup lama, Icha tak kunjung tiba. Niatan ingin bertemu selayaknya drama, malah kandas karena kesabaran telah mendekati batas. Akhirnnya, Riski mulai mengirim pesan kepada Icha untuk mengingatkan tentang rencana yang telah dibuat sebelumnya.

“Selamat pagi sayang :)”

Tak butuh banyak waktu, Icha pun langsung membalas dengan segera.

“Ahh, masih ngantuk nihh … ” balas Icha.

“Yaelah, udah jam segini juga. Sana mandi, biar segerrrr … ”

“Dingin tauk! Kamu juga belum mandi :p”

“Kata siapa, aku udah mandi dong. Sana cuci muka dulu”

Kembali menunggu di waktu yang terus berlalu. Jongkok hingga berdiri tanpa arti, dengan terus memandangi layar ponsel menjadi salah satu kesibukan Riski di kala itu. Tanpa sadar, Riski telah membuang beberapa bungkus makanan ringan yang dibelinya sembari menunggu kedatangan Icha. Namun apa daya, kekasihnya tak kunjung tiba.

"Udah, Cha?"

"Ayo lah, Cha. Udah mulai panas nih."

"Yaelah, Cha. Jangan bilang kalau hari ini kamu tidur lagi?!"

Terus mengetik dan mengirim, menanyakan Icha yang tidak ada kabar. Namun tetap saja tak ada balasan. Sampai akhirnya, datang seorang perempuan yang tiba-tiba menepuk pundak Riski dari arah belakang.

"Whoeyy!!!"

Tubuh Riski tersentak seketika. Namun, dibalik rasa kagetnya ia bahagia. Ia merasa bahwa penantiannya tak sia-sia. Ia pun langsung menoleh dengan wajah semringah dan memanggil nama kekasihnya.

"Cha ... " ujar Riski tersendat.

Tiba-tiba rautnya berubah. Wajah yang mulanya berseri telah hilang, berganti dengan muram.

"Kamu kira aku Icha, Ris? Hahaha ... Payah!" ejek perempuan tersebut dengan tawa.

"Ya kali, udah nunggu lama malah yang dateng nenek sihir!" gumam Riski kecewa.

"Apa kau bilang!!!!"

Ternyata bukan Icha, melainkan Raisya. Kakak sepupunya yang merupakan teman bermainnya sewaktu kecil. Walaupun dulunya selalu bertemu setiap hari, namun sekarang jarang karena Raisya menempuh pendidikan di luar kota.

Mereka berbincang dengan sangat akrab. Bernostalgia tentang kisah-kisah yang pernah mereka lalui di masa lampau. Sangat menghibur, hingga beberapa saat kemudian ponsel Riski bergetar.

“Maaf ya yang, aku lupa. Aku ketiduran barusan, padahal aku udah bangun lho tadi. Minggu besok aja ya? Aku pasti akan bangun lebih pagi, janji! Hehehe..” tulis Icha di dalam pesannya.

“OKE”

Tanpa pikir panjang, pesan Icha terbalas dengan cepat. Hal itu Riski lakukan karena sedang asyik mengobrol dengan Raisya yang tak pernah ia jumpai selama beberapa tahun belakangan.

“Aku udah minta maaf loh?!” balas Icha dengan sedikit emosi.

Cepatnya Riski membalas pesan membuatnya ceroboh karena telah memencet tombol caps lock.  Hal itu memungkinkan sebuah kesalahpahaman. Walaupun begitu, Riski malah semakin asyik mengobrol dan mengabaikan ponsel di genggamannya.

"Klunting-klunting ... syalalalalalaaa ... Klunting-klunting-klunting ..."

Tampak nama kontak "Sayangku" yang berdering di ponselnya. Hal itu membuat Riski langsung mengusaikan perbincangan serunya.

"Sssttt... Jangan berisik! Pacarku telfon nih!" perintah Riski sambil menunjukkan jari telunjuk di depan mulutnya.

“Kamu marah ya?” tanya Icha sedikit malu.

“Enggak kok.” balas Riski.

“Maafin aku ya?”

“Iya, udah ku maafin kok. Lain kali jangan diulang ya? Aku capek yang nungguin tau,” sahut Riski dengan suara lembut.

“Hah?! Kamu udah di alun-alun kota?! Kok gak bilang sih!!!” ujar Icha dengan sedikit emosi.

“Kan kita udah janjian di sini, masak aku ingkari sih?” jawab Riski dengan santai.

Seperti obat nyamuk, Raisya pun memilih beranjak dan pergi. Ditambah lagi ia sangat lapar karena belum sarapan. Langsung saja ia berjalan meninggalkan Riski yang sedang asyik menelfon. Namun, karena ia malas makan sendirian akhirnya dia balik badan dan mengajak Riski untuk menemaninya.

“Ayo ikut aku, nanti nyesel loh kamu!” ajak Raisya sembari menarik tangan Riski.

“Sttttttt! Sana duluan, nanti aku nyusul! Husshhh ... ” bisik Riski kepada Raisya.

Raisya pun pergi. Sedangkan Riski, masih sibuk menjawab panggilan dari kekasih tercintanya.

“Halo?? Maaf yang, barusan ada gangguan teknis. Kamu masih ... ” ucap Riski belum rampung.

“Tutt.”

Icha menutup panggilannya tiba-tiba. Riski pun terus mencoba menelfon Icha kembali. Namun sia-sia, Icha tak kunjung mengangkat telfonnya. Malah panggilannya sempat direject Icha beberapa kali.

Pikiran positif selalu di miliki Riski. Memilih mengerti, Riski pun berhenti menelfon Icha dan langsung menyusul Raisya ke tempat warung soto. Ia juga merasa kelaparan setelah beberapa jam menunggu janji yang tak ia dapati.

***

0 Comments

Posting Komentar