Cerbung: Sembunyi dalam Sunyi (Bagian 11)


<<sebelumnya di bagian 10...


Aska terbangun dari mimpi buruknya. Jantungnya begitu kencang memompa darah sampai-sampai membuat wajahnya memerah. Dengan penuh engah, ia lihat jam dinding di atas pintu kamarnya dan tampak dengan jelas bahwa waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

“Waduh, bego baget sih gue!” ujar Aska sembari menyingkirkan selimut di atas kakinya.

Tanpa pikir panjang, Aska langsung berlari menuju kamar mandi. Diambilnya seciduk air untuk mencuci muka dan membasahi rambutnya. Tak ada satu menit, ia langsung berlari keluar kamar mandi dan mengambil baju ganti.

"Buru-buru amat sih, Ka? Ada jam kelas pagi ya?" tanya Ibu Aska saat melihat anaknya bergegas memakai sepatu.

"Ada janji, mak. Ini janji suci. Janji seorang lelaki untuk bertemu dengan calon mempelai."

"Kamu belum bangun tidur ya? Ini kehidupan nyata loh?!" tanya Ibu Aska dengan penuh tanda tanya di kepalanya. "Eh iya, Ka. Mamak mau titip..." lanjutnya belum rampung.

“Aska berangkat, Mak! Dahh..” pamit Aska tanpa menggubris omongan ibunya.

“Askaaaaaaaaaaaaaa!!” teriak ibunya tidak ikhlas.

Sebenarnya di pagi itu Aska memiliki jadwal untuk mengantarkan pesanan, tapi ia dibutakan oleh nafsu gilanya. Perintah dari Indah mengalahkan perintah dari wanita yang telah melahirkannya di dunia. Sampai pada akhirnya, ibunya mendapatkan banyak ocehan dari para pelanggannya di grup whatsapp “Para Pecinta Ketela”.

Setibanya di kampus, Aska langsung berlari menuju kamar mandi Sastra. Engahan yang tak terkendali ditambah dengan derasnya kucuran keringat membuat wajahnya semakin tampak seram. Tanpa terencana ia menabrak seorang cewek yang melintas di sekitar kamar mandi Sastra.

“Brakkkkkk!!!” bunyi suara tabrakan yang menyebabkan mereka terjatuh bersamaan.

“Aduhh... perutkuuu...” keluh cewek tersebut.

Setelah disadari, ternyata cewek yang ditabrak adalah dosen pembimbingnya. Bukannya takut jika mendapat masalah diskripsinya yang tak rampung-rampung, Aska malah menikmati keadaan tersebut dengan penuh perasaan.

Posisi jatuh mereka sangatlah istimewa. Aska berada tepat di atas Bu Pina yang sedang terpejam menahan sakit akibat tabrakan. Paras cantik Bu Pina membuat Aska terpana. Aska terus memandangi wajah Bu Pina dengan penuh rasa yang membuatnya ingin melakukan suatu ide gila.

“Pina.. Ini akang…” bisik Aska pelan dengan tatapan sayu.

Bisikan tersebut menuntun Bu Pina untuk membuka matanya. Bu Pina tampak ling-lung, ia tidak menyadari bahwa sedang apa dia di sana dan mengapa ada makhluk aneh berada di atasnya. Namun, beberapa detik kemudian ia tersadar karena tetesan keringat Aska berjatuhan di wajahnya. Tanpa pikir panjang, Bu Pina langsung saja melakukan gerakan tendang.

“Wattcyaaaaaaa!!!”

Seketika tendangan Bu Pina membuat tubuh Aska terbang dan tersungkur di selokan. Bu Pina sangat lihai dalam urusan bela diri, karena sebelum jadi dosen ia pernah memenangkan kejuaraan MMA tingkat nasional. Ia beralih profesi menjadi dosen karena mendapat pesan dari ayahnya yang sudah tiada. Saat berada di kursi goyang sebelum napas terakhirnya, Ayahnya berkata bahwa Pina tak akan mendapat jodoh jika masih terus bergelut di dunia baku hantam.

“Aduuuhhhhhh.....” teriak Aska dari dalam selokan, samping kamar mandi Sastra.

Terlihat dengan jelas, Aska meronta-ronta di dalam selokan sambil menggenggam celana bagian tengah. Tendangan Bu Pina tepat mengenai sasaran ke titik terlemah cowok, yaitu di pusat bertemunya semua arah jahitan.

0 Comments

Posting Komentar