Kewisudaanmu

Benar kata sebagian orang sesendirian apapun, selelah apapun, seterpuruk apapun akan ada satu yang akan tetap bertahan. And then, seseorang tersebut tidak akan membuat mental down and shake setiap waktu. Cukup memberikan apa yang kita butuhkan.

Aku mengenalnya sejak sekolah menengah pertama. Mulai dari bukan siapa-siapa. Dari hanya mengerti bahwa sekolah hanya berputat tentang mengerjakan tugas-tugas dari guru, maupun membeli bakso malang gerobakan di dekat sekolah. Mendekati kelulusan, ia selalu memintaku untuk mengikuti lomba menulis cerpen. Jawabanya sama, selalu aku bilang "tidak". Sampai pada akhirnya kelulusan pun tiba, dan kita mulai mengurusi kepentingan masing-masing.

Dia melanjutkan di salah satu SMK kesehatan semi militer, yang waktu itu cukup terkenal dan mahal. Sudah pasti masuk asrama dan jarang pulang. Begitupun aku, yang memutuskan masuk ke pesantren. Pulang hanya setahun 2 kali. Meskipun begitu, setiap ada waktu libur kami masih sempat berkabar ria. Iyaa, sampai kami lulus.

Alhamdulilah, tak membutuhkan waktu lama ia langsung bekerja di salah satu laboratorium analisis kesehatan, sepertinya di daerah Karawang. Aku tetap di Magelang, melanjutkan studiku di kampus dalam kota. Dan, kami masih sering memberi kabar.

Beberapa tahun kemudian, ia pulang ke Magelang. Memutuskan out dari pekerjaan dengan beberapa alasan. Yaa, aku sudah yakin sejak awal bahwa dia bukan tipe orang yang senang bermalas-malasan dan tidak memikirkan masa depan. Saat itu pula aku mengatakan tidak apa-apa, mungkin rejekimu di tempat lain.

Saat di Magelang, ia sempat bekerja di salah satu toko jual beli handphone dan paket data, milik salah satu saudaranya. Letaknya dekat dari rumah. Hal itu membuat kita bisa bertemu setelah bertahun-tahun, walau hanya sekadar titip makanan kesukaanya, nasi goring Magelangan.

Setahun berlalu, aku tetap memberikan semangat. Aku masih ingat, waktu itu ia sempat mengatakan bahwa ia ingin bekerja di sebuah pabrik. Dan, aku sarankan untuknya memikirkanya kembali, “carilah pekerjaan yang sesuai dengan keahlianmu. Kalau kamu sudah mempelajari analisis kesehatan, carilah pekerjaan yang berhubungan dengan kesehatan.”

Hingga akhirnya aku mendapatkan kabar baik, saat ia mengatakan bahwa telah bekerja di salah satu rumah sakit pemerintah daerah Semarang. Itu kabar baik sekaligus hal yang menyedihkan untukku, karena ia harus merantau kembali. Yaa, setahun dua tahun aku tidak menyangka, saat ia memutuskan untuk bekerja sambil kuliah. Mendengar kabar baik itu, rasanya tak mampu untukku menahan air mata untuk tidak keluar. Karena sejak dulu, ia selalu bilang bahwa ingin melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, dan sekarang sudah terwujud.

Sampai sekarang ia selalu mengatakan terima kasih kepadaku, katanya aku selalu ada untuknya, dari dulu sampai sekarang. Yaa, bagaimana tidak, kami sudah berteman sangat lama. Sudah sewajarnya untuk saling memberikan semangat. Susah senang selalu ada, baik dalam hal konyol, maupun hal-hal kecil yang menurutku sepesial, seperti tentang "tanya kabar" kepada keluargaku. "Titip salam buat bapak ibu yaa," seakan-akan sudah sangat dekat dengan keluargaku. Tapi memang sudah kenal sih, karena kebetulan omnya kenal juga dengan bapakku. Dan, bapaku sudah beberapa kali bertemu denganya. Jadi, ya, sok akrab gitu.

Terima kasih, sudah selalu memberikan semangat dan memintaku untuk menaikan rasa sabar.

Terima kasih, sudah selalu mengingatkanku untuk  menjaga kesehatan.

Terima kasih, sudah menyadarkanku untuk memilih progam studi Bahasa Indonesia, yang akhirnya menciptakan kesan cukup menyenangkan. 

Lewat tulisan ini jugaa aku ingin mengucapkan “Selamat wisudaa Ndutt, semoga apa yang kamu lakukan dan usahakan tidak akan pernah sia-sia. Aku yakin sejak dulu, kamu bukan tipe orang yang mudah menyerah. Kalau naik jabatan jangan lupa yee, makan makanyee!“


Us

0 Comments

Posting Komentar